Efisiensi dan Efektivitas Ruang
Manusia, tak dapat dipungkiri merupakan makhluk yang menyebabkan krisis ruang horizontal di muka bumi. Bagaimana tidak? Manusia sebagai makhluk hidup butuh sebuah naungan, tempat berdiam, bertinggal, tempat ia pulang. Kebutuhan manusia akan tempat-tempat seperti itulah yang mendorongnya untuk mengokupansi ruang secara horizontal. Ruang-ruang ini terbentuk sejak zaman dahulu kala. Perilaku seperti ini membawa pada krisis lahan pada masa kini, di mana kebutuhan manusia semakin meningkat, dan pemanfaatan lahan secara horizontal pun semakin meluas. Mulailah terbentuk ruang-ruang tinggal yang meninggi, sebut saja apartemen ataupun rumah susun. Manusia mulai menemukan solusinya dalam hal pemenuhan kebutuhan bertinggal tanpa perlu menghadapi kesulitan akibat krisis lahan horizontal. Masalah selesai. Benarkah?
Tunggu, permasalahan terhadap ruang hasil okupansi manusia tidak berhenti sampai di sana. Seperti yang kebanyakan dari kita sepakati, manusia yang terkategori sebagai makhluk hidup, sudah pastilah bergerak. Bergerak seperti apa? Jalan di tempat? Lari di tempat? Atau menggerakkan anggota gerak seolah menari? Ya, tentu tidak. Manusia, bergerak dalam artian melakukan perjalanan, atau bisa kita sebut sebuah perpindahan dari satu titik ke titik lain yang berbeda. Jarak antara titik yang pertama (keberangkatan) dengan titik yang kedua (tujuan), sebut saja x, dengan syarat x>0.
Ya, manusia melakukan perpindahan, perjalanan. Yang kita bicarakan di sini adalah jalur perpindahan manusia yang tentunya membutuhkan ruang yang diokupansi setiap sepersekian detik perpindahannya. Jalur perpindahan ini awalnya tidak menjadi permasalahan dalam peri-kehidupan manusia. Dahulu kala, manusia dengan mudahnya mengokupansi ruang manapun yang sekiranya akan memudahkannya mencapai titik tujuan. Namun, pada masa kini — masa yang katanya modern — perpindahan manusia kebanyakan dilakukan melewati jalan raya, atau bisa juga disebut ruang-ruang yang telah didefinisikan oleh pergerakan kebanyakan manusia sebagai jalur perpindahan.
Nah, lalu masalahnya di mana? Yah, seharusnya tidak bermasalah. Bandingkan dulu, orang-orang melakukan perjalanan dengan jalan kaki, atau beramai-ramai menggunakan kuda, atau kereta kuda, dan lain sebagainya. Tapi pada zaman itu, ruang-ruang — terutama ruang-ruang kota seperti di Jakarta — masih belum banyak terokupansi oleh manusia untuk kebutuhan-kebutuhannya seperti yang terjadi pada masa kini. Sekarang, jalur perpindahan semakin terbatas, ditambah dengan semakin meningkatnya jumlah manusia. Apabila seorang manusia membutuhkan ruang sekitar 4 m2 ketika ia mengokupansi ruang dengan berjalan kaki, dan 6 m2 ketika ia mengokupansi ruang dengan mobil sedan, bayangkan bila ada ribuan atau puluh ribuan orang memanfaatkan jalur yang sama, berapa banyak ruang yang harus disediakan agar semua orang dapat bergerak lancar?
Baiklah kalau begitu, kita galakkan saja penggunaan transportasi massal, sebut saja MRT (Mass Rapid Transportation) yang tentunya berusaha mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Oke, masalah selesai. Oh, tunggu dulu. Belum selesai sampai di sana. Lho, apalagi? Masih ada permasalahan lainnya, yakni penggunaan transportasi massal yang baik dan benar.
Pernahkah terbayang ketika anda berdesak-desakan di dalam sebuah KRL, di mana kaki anda bahkan tak dapat menapak tanah? Ataukah terbayang ketika anda menunggu bus TransJakarta selama berjam-jam dan ketika berusaha memasuki bus, ternyata pintu bus nyaris tak dapat tertutup karena saking penuhnya? Ya, itu merupakan dua di antara banyak contoh okupansi ruang oleh manusia di dalam sebuah angkutan umum. Dengan sebutannya sebagai angkutan umum, tentunya untuk kepentingan umum. Sebutannya sebagai MRT tadi juga tentunya dimaksudkan agar kendaraan yang bersangkutan mampu mengangkut massa dalam jumlah besar. Namun, pada praktiknya seringkali tidaklah demikian.
Pernahkah anda temukan orang-orang yang dengan semena-mena mengokupansi ruang lebih yang menyebabkan ada ruang yang terbuang percuma oleh satu orang, padahal di lain sisi dapat dimanfaatkan oleh satu orang tambahan lagi sehingga memungkinkan tujuan angkutan umum tersebut beroperasi maksimal untuk kepentingan umum dan mengangkut massa dalam jumlah besar. Ya, inilah yang sering terjadi dan menjadi sorotan saya. Kejadian seperti tidak seharusnya terjadi bila pengguna angkutan umum memiliki kesadaran terhadap kepentingan umum dan kesadaran terhadap bagaimana menjadi penumpang yang baik dan memanfaatkan ruang dengan efektif dan efisien.
Hal paling sederhana yang harus dipahami oleh para pengguna ini adalah dalam hal posisi tubuh ketika berdiri dan bagaimana menempatkan barang bawaan anda agar tidak mengambil porsi ruang berlebih dari apa yang seharusnya anda butuhkan. Contohnya adalah pada sebuah bus dengan tempat duduk saling berhadapan satu sama lain seperti tempat duduk di bus TransJakarta ataupun BiKun UI. Dengan kondisi bus yang seperti ini, penumpang yang berdiri seolah dipaksa untuk berdiri menghadap jendela kiri dan kanan, serta saling membelakangi satu sama lain. Dalam kondisi ini, banyak di antara kita yang dengan semena-mena membiarkan tas kita di belakang dan mendorong orang di belakang kita agar berdiri lebih membungkuk.
Padahal bila kita amati dengan seksama, sebenarnya anda memiliki ruang yang cukup untuk meletakkan tas anda tanpa mengganggu penumpang lainnya. Ya, ruang itu berada di depan anda. Di depan anda, orang yang duduk memberikan ruang yang cukup dari tubuh bagian atas mereka hingga tubuh bagian atas anda. Ini memungkinkan ruang tersebut anda manfaatkan untuk menyembulkan tas ransel gendut anda. Orang yang duduk terganggu? Bisa ya bisa tidak. Secara psikologis, kita memang tidak merasa nyaman bila ada suatu objek asing di depan wajah kita dalam jarak yang terlampau dekat. Namun, hal ini dapat dengan mudah diatasi dengan cara memalingkan wajah, selesai sudah masalahnya.
Terkait barang bawaan ini hanyalah satu dari sekian banyak keegoisan para pengguna transportasi umum yang dapat kita temui sehari-hari. Sungguh, seringnya saya menemui hal-hal seperti itu mendorong saya akhirnya menulis paper sederhana ini demi membuka pikiran banyak orang. Mari kita lihat, apakah kasus-kasus ke depannya akan mampu mendorong saya untuk memposkan ilustrasi terkait bagaimana menjadi penumpang angkutan umum yang menyenangkan. Sekian curahan hati saya, semoga terlalu serius, semoga bermanfaat, semoga anda lega setelah melihat akhir tulisan ini, semoga tidak dilempar bata merah, semoga bisa dapat cendol segar (eh, ini bukan k*s**s).

….
Flight of Ideas, banyak amat ide u dalam satu artikel, wkwkwk.
ini nulisnya pake emosi nih,, smua dituang aje,, wakakakakak..