Aku, rindu menulis
Kamis dini hari, jauh setelah terakhir kali aku menulis. Aku, rindu menulis. Namun, entah mengapa imajinasi dan jari enggan beranjak dan bekerja. Tercatat, 5 Oktober 2010, terakhir kali tulisanku terukir di dunia semu — dunia di mana orang-orang merasa dapat hadir dan menghilang sesuka hati. 11 bulan, hampir setahun. Bukan jeda waktu yang sehat bagi seorang penulis (writer wannabe –red) untuk berlibur dan beristirahat. Mengapa? Karena imajinasiku semakin menumpul, setidaknya itulah yang terasa. Imajinasi? Ya. Atau mungkin inspirasi? Mungkin saja. Pernah kubaca sebuah kutipan,
“penulis yang menunggu inspirasi bukanlah penulis, mereka hanya pemalas yang mencoba menulis.”
Kurang lebih demikian adanya (dengan ingatan seadanya), kutipan itu menamparku bolak dan balik. Kiri kanan, depan belakang, atas bawah, ke segala penjuru. Aku, hanya pemalas dengan mimpi-mimpi.
Kini, aku di sini. Dengan sejumlah pikiran dan imajinasi, atau boleh pula kau sebut mimpi. Mencoba mengulang saat di mana aku seolah terasuk oleh arwah pujangga negri. Aku mencoba berontak melawan segala kemalasan, segala alasan dan sangkalan, serta mencoba mendobrak kelembaman dalam diri. Aku akhirnya menulis lagi. Dengan caraku, ciri khas, atau gaya, atau apapun yang ingin kau sebut. Aku (mungkin) telah kembali. Setidaknya aku berupaya untuk kembali.
Sungguh, aku rindu menulis. Aku rindu heningnya malam hari, dengan bunyi pendingin udara, tarikan-hembusan nafas orang tertidur, dan deru kotak cahaya yang membantu wujudkan goresan-goresan semu. Lega rasanya, semua itu kembali padaku.
September 8th, 2011, 01.06 (GMT+7)
– melancholic_self_loner –
