#prayforIndonesia #actforIndonesia
Ketika bumi pertiwi menghela napas, atas ketidakseimbangan alam semesta, November 2010 menjadi saksi. Bibir tungku magma Nusantara mulai gerah. Satu muntah, yang lain terengah.
Belum lagi jeritan para ibu, ibu pertiwi hingga ibukota, yang membuat langit pilu berurai air mata. Satu tenggelam, yang lain terguyur.
Enggankah kita berhenti sejenak, tatkala sekelilingmu tengah terdera. Memperlambat langkah dan merenungkan laju hidup yang terlalu cepat. Hidup bukanlah kereta ekspres yang melaju kencang. Mengapa perlu menghiraukan beberapa pemberhentian, tatkala perjalanan ini pasti berujung serupa, kematian?
Berhentilah. Tengoklah kiri dan kanan. Tarik napas perlahan, jengkal demi jengkal, dengan khidmat. Perhatikan, setiap jejak langkah yang kau torehkan, telah lukai bumi pertiwi. Bumi yang kita aniaya tanpa rasa dosa mulai merintih perih.
Lalu, masih acuhkah kau kala beliau mulai bergumam murka dan bermuram durja?
Wahai putra Nusantara dan putri Bunda pertiwi, tunjukkan baktimu bagi negeri! Nusantara bukan murka pada penghuni Merapi, Pertiwi bukan mencaci warga Mentawai. Mereka turut menangisi semua putra dan putri, yang hanya diam dan sembunyi. Ya, semua putra dan putri negeri. Aku, kau, dan dia. Kita, kalian, dan mereka.
Sebutir doa tak lagi cukup untuk meredam luka lama. Hanya tindak nyata yang mungkin perbaiki semua. Bukan sekadar doa atau kiriman rupiah berjuta-juta. Bangun perilaku diri, peduli sesama, peduli lingkungan, peduli Nusantara.
Apa yang bisa kita berikan, berikan yang terbaik. #prayforIndonesia #actforIndonesia.

kadang berpikir, kenapa kita harus berdoa SESAAT setelah bencana itu terjadi?
kemana kita dulu? kemana kita pada saat damai2 saja? kemana?
baru setelah banyak orang jadi korban, kita baru ingat..sudah terlambat, kawan…doa itu sudah tidak ada gunanya..
ingatlah bumi, ingatlah alam, ingatlah semua hal yang ada di sekitar kita..sebelum semua hal itu berbalik menghancurkan kita..peliharalah..bumi bukan benda mati…tapi juga “hidup” sama seperti yang menempatinya..
Yap, itu dia… Seolah perlu ada bencana baru bisa menyadarkan banyak orang, ketika barangkali keselamatan jiwa kita juga terancam. Maka dari itu, saya pikir doa tak lagi cukup untuk perbaiki semua. Kita semua harus mulai memperbaiki diri dan terus sadar akan perilaku kita.