Efisiensi dan Efektivitas Ruang

•November 7, 2011 • 2 Comments

Manusia, tak dapat dipungkiri merupakan makhluk yang menyebabkan krisis ruang horizontal di muka bumi. Bagaimana tidak? Manusia sebagai makhluk hidup butuh sebuah naungan, tempat berdiam, bertinggal, tempat ia pulang. Kebutuhan manusia akan tempat-tempat seperti itulah yang mendorongnya untuk mengokupansi ruang secara horizontal. Ruang-ruang ini terbentuk sejak zaman dahulu kala. Perilaku seperti ini membawa pada krisis lahan pada masa kini, di mana kebutuhan manusia semakin meningkat, dan pemanfaatan lahan secara horizontal pun semakin meluas. Mulailah terbentuk ruang-ruang tinggal yang meninggi, sebut saja apartemen ataupun rumah susun. Manusia mulai menemukan solusinya dalam hal pemenuhan kebutuhan bertinggal tanpa perlu menghadapi kesulitan akibat krisis lahan horizontal. Masalah selesai. Benarkah?

Tunggu, permasalahan terhadap ruang hasil okupansi manusia tidak berhenti sampai di sana. Seperti yang kebanyakan dari kita sepakati, manusia yang terkategori sebagai makhluk hidup, sudah pastilah bergerak. Bergerak seperti apa? Jalan di tempat? Lari di tempat? Atau menggerakkan anggota gerak seolah menari? Ya, tentu tidak. Manusia, bergerak dalam artian melakukan perjalanan, atau bisa kita sebut sebuah perpindahan dari satu titik ke titik lain yang berbeda. Jarak antara titik yang pertama (keberangkatan) dengan titik yang kedua (tujuan), sebut saja x, dengan syarat x>0.

Ya, manusia melakukan perpindahan, perjalanan. Yang kita bicarakan di sini adalah jalur perpindahan manusia yang tentunya membutuhkan ruang yang diokupansi setiap sepersekian detik perpindahannya. Jalur perpindahan ini awalnya tidak menjadi permasalahan dalam peri-kehidupan manusia. Dahulu kala, manusia dengan mudahnya mengokupansi ruang manapun yang sekiranya akan memudahkannya mencapai titik tujuan. Namun, pada masa kini — masa yang katanya modern — perpindahan manusia kebanyakan dilakukan melewati jalan raya, atau bisa juga disebut ruang-ruang yang telah didefinisikan oleh pergerakan kebanyakan manusia sebagai jalur perpindahan.

Nah, lalu masalahnya di mana? Yah, seharusnya tidak bermasalah. Bandingkan dulu, orang-orang melakukan perjalanan dengan jalan kaki, atau beramai-ramai menggunakan kuda, atau kereta kuda, dan lain sebagainya. Tapi pada zaman itu, ruang-ruang — terutama ruang-ruang kota seperti di Jakarta — masih belum banyak terokupansi oleh manusia untuk kebutuhan-kebutuhannya seperti yang terjadi pada masa kini. Sekarang, jalur perpindahan semakin terbatas, ditambah dengan semakin meningkatnya jumlah manusia. Apabila seorang manusia membutuhkan ruang sekitar 4 m2 ketika ia mengokupansi ruang dengan berjalan kaki, dan 6 m2 ketika ia mengokupansi ruang dengan mobil sedan, bayangkan bila ada ribuan atau puluh ribuan orang memanfaatkan jalur yang sama, berapa banyak ruang yang harus disediakan agar semua orang dapat bergerak lancar?

Baiklah kalau begitu, kita galakkan saja penggunaan transportasi massal, sebut saja MRT (Mass Rapid Transportation) yang tentunya berusaha mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Oke, masalah selesai. Oh, tunggu dulu. Belum selesai sampai di sana. Lho, apalagi? Masih ada permasalahan lainnya, yakni penggunaan transportasi massal yang baik dan benar.

Pernahkah terbayang ketika anda berdesak-desakan di dalam sebuah KRL, di mana kaki anda bahkan tak dapat menapak tanah? Ataukah terbayang ketika anda menunggu bus TransJakarta selama berjam-jam dan ketika berusaha memasuki bus, ternyata pintu bus nyaris tak dapat tertutup karena saking penuhnya? Ya, itu merupakan dua di antara banyak contoh okupansi ruang oleh manusia di dalam sebuah angkutan umum. Dengan sebutannya sebagai angkutan umum, tentunya untuk kepentingan umum. Sebutannya sebagai MRT tadi juga tentunya dimaksudkan agar kendaraan yang bersangkutan mampu mengangkut massa dalam jumlah besar. Namun, pada praktiknya seringkali tidaklah demikian.

Pernahkah anda temukan orang-orang yang dengan semena-mena mengokupansi ruang lebih yang menyebabkan ada ruang yang terbuang percuma oleh satu orang, padahal di lain sisi dapat dimanfaatkan oleh satu orang tambahan lagi sehingga memungkinkan tujuan angkutan umum tersebut beroperasi maksimal untuk kepentingan umum dan mengangkut massa dalam jumlah besar. Ya, inilah yang sering terjadi dan menjadi sorotan saya. Kejadian seperti tidak seharusnya terjadi bila pengguna angkutan umum memiliki kesadaran terhadap kepentingan umum dan kesadaran terhadap bagaimana menjadi penumpang yang baik dan memanfaatkan ruang dengan efektif dan efisien.

Hal paling sederhana yang harus dipahami oleh para pengguna ini adalah dalam hal posisi tubuh ketika berdiri dan bagaimana menempatkan barang bawaan anda agar tidak mengambil porsi ruang berlebih dari apa yang seharusnya anda butuhkan. Contohnya adalah pada sebuah bus dengan tempat duduk saling berhadapan satu sama lain seperti tempat duduk di bus TransJakarta ataupun BiKun UI. Dengan kondisi bus yang seperti ini, penumpang yang berdiri seolah dipaksa untuk berdiri menghadap jendela kiri dan kanan, serta saling membelakangi satu sama lain. Dalam kondisi ini, banyak di antara kita yang dengan semena-mena membiarkan tas kita di belakang dan mendorong orang di belakang kita agar berdiri lebih membungkuk.

Padahal bila kita amati dengan seksama, sebenarnya anda memiliki ruang yang cukup untuk meletakkan tas anda tanpa mengganggu penumpang lainnya. Ya, ruang itu berada di depan anda. Di depan anda, orang yang duduk memberikan ruang yang cukup dari tubuh bagian atas mereka hingga tubuh bagian atas anda. Ini memungkinkan ruang tersebut anda manfaatkan untuk menyembulkan tas ransel gendut anda. Orang yang duduk terganggu? Bisa ya bisa tidak. Secara psikologis, kita memang tidak merasa nyaman bila ada suatu objek asing di depan wajah kita dalam jarak yang terlampau dekat. Namun, hal ini dapat dengan mudah diatasi dengan cara memalingkan wajah, selesai sudah masalahnya.

Terkait barang bawaan ini hanyalah satu dari sekian banyak keegoisan para pengguna transportasi umum yang dapat kita temui sehari-hari. Sungguh, seringnya saya menemui hal-hal seperti itu mendorong saya akhirnya menulis paper sederhana ini  demi membuka pikiran banyak orang. Mari kita lihat, apakah kasus-kasus ke depannya akan mampu mendorong saya untuk memposkan ilustrasi terkait bagaimana menjadi penumpang angkutan umum yang menyenangkan. Sekian curahan hati saya, semoga terlalu serius, semoga bermanfaat, semoga anda lega setelah melihat akhir tulisan ini, semoga tidak dilempar bata merah, semoga bisa dapat cendol segar (eh, ini bukan k*s**s).

Aku, rindu menulis

•September 8, 2011 • Leave a Comment

Kamis dini hari, jauh setelah terakhir kali aku menulis. Aku, rindu menulis. Namun, entah mengapa imajinasi dan jari enggan beranjak dan bekerja. Tercatat, 5 Oktober 2010, terakhir kali tulisanku terukir di dunia semu — dunia di mana orang-orang merasa dapat hadir dan menghilang sesuka hati. 11 bulan, hampir setahun. Bukan jeda waktu yang sehat bagi seorang penulis (writer wannabe –red) untuk berlibur dan beristirahat. Mengapa? Karena imajinasiku semakin menumpul, setidaknya itulah yang terasa. Imajinasi? Ya. Atau mungkin inspirasi? Mungkin saja. Pernah kubaca sebuah kutipan,

“penulis yang menunggu inspirasi bukanlah penulis, mereka hanya pemalas yang mencoba menulis.”

Kurang lebih demikian adanya (dengan ingatan seadanya), kutipan itu menamparku bolak dan balik. Kiri kanan, depan belakang, atas bawah, ke segala penjuru. Aku, hanya pemalas dengan mimpi-mimpi.

Kini, aku di sini. Dengan sejumlah pikiran dan imajinasi, atau boleh pula kau sebut mimpi. Mencoba mengulang saat di mana aku seolah terasuk oleh arwah pujangga negri. Aku mencoba berontak melawan segala kemalasan, segala alasan dan sangkalan, serta mencoba mendobrak kelembaman dalam diri. Aku akhirnya menulis lagi. Dengan caraku, ciri khas, atau gaya, atau apapun yang ingin kau sebut. Aku (mungkin) telah kembali. Setidaknya aku berupaya untuk kembali.

Sungguh, aku rindu menulis. Aku rindu heningnya malam hari, dengan bunyi pendingin udara, tarikan-hembusan nafas orang tertidur, dan deru kotak cahaya yang membantu wujudkan goresan-goresan semu. Lega rasanya, semua itu kembali padaku.

September 8th, 2011, 01.06 (GMT+7)
– melancholic_self_loner –

#prayforIndonesia #actforIndonesia

•November 5, 2010 • 2 Comments

Ketika bumi pertiwi menghela napas, atas ketidakseimbangan alam semesta, November 2010 menjadi saksi. Bibir tungku magma Nusantara mulai gerah. Satu muntah, yang lain terengah.

Belum lagi jeritan para ibu, ibu pertiwi hingga ibukota, yang membuat langit pilu berurai air mata. Satu tenggelam, yang lain terguyur.

Enggankah kita berhenti sejenak, tatkala sekelilingmu tengah terdera. Memperlambat langkah dan merenungkan laju hidup yang terlalu cepat. Hidup bukanlah kereta ekspres yang melaju kencang. Mengapa perlu menghiraukan beberapa pemberhentian, tatkala perjalanan ini pasti berujung serupa, kematian?

Berhentilah. Tengoklah kiri dan kanan. Tarik napas perlahan, jengkal demi jengkal, dengan khidmat.  Perhatikan, setiap jejak langkah yang kau torehkan, telah lukai bumi pertiwi. Bumi yang kita aniaya tanpa rasa dosa mulai merintih perih.

Lalu, masih acuhkah kau kala beliau mulai bergumam murka dan bermuram durja?

Wahai putra Nusantara dan putri Bunda pertiwi, tunjukkan baktimu bagi negeri! Nusantara bukan murka pada penghuni Merapi, Pertiwi bukan mencaci warga Mentawai. Mereka turut menangisi semua putra dan putri, yang hanya diam dan sembunyi. Ya, semua putra dan putri negeri. Aku, kau, dan dia. Kita, kalian, dan mereka.

Sebutir doa tak lagi cukup untuk meredam luka lama. Hanya tindak nyata yang mungkin perbaiki semua. Bukan sekadar doa atau kiriman rupiah berjuta-juta. Bangun perilaku diri, peduli sesama, peduli lingkungan, peduli Nusantara.

Apa yang bisa kita berikan, berikan yang terbaik. #prayforIndonesia #actforIndonesia.

The Climb

•May 18, 2010 • 2 Comments

I can almost see it
That dream I am dreaming
But there’s a voice inside my head saying
“You’ll never reach it”

Every step I’m taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose
Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I’m gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

‘Cause there’s always gonna be another mountain
I’m always gonna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb, yeah!

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna make it move
Always gonna be an uphill battle
Somebody’s gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb, yeah!

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It’s all about, it’s all about the climb
Keep the faith, keep your faith, whoa

The Climb by Miley Cyrus
Lyric credit: www.metrolyrics.com/the-climb-lyrics-miley-cyrus.html

================================================================================

Di atas merupakan lirik sebuah lagu yang pastinya tidak asing bagi Anda yang telah menikmati penampilan Miley Cyrus di film Hannah Montana. Awalnya, saya tidak tertarik dengan lagunya. Biasa saja. Namun, awal yang membuat saya mencoba mendengarkannya dengan lebih seksama adalah karena liriknya yang sangat inspiratif. Tulisan saya ini dibuat karena tiba-tiba teringat lagu ini, yang diperkenalkan pada saya dan terpikir untuk membagikan pengalaman saya tentang lagu ini. Dan bagi yang berminat untuk mengunduh lagunya, silakan klik di sini

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Bagian dari lirik di atas menunjukkan bahwa setiap orang tentunya akan menghadapi sebuah tantangan, gunung yang besar. Bukan tidak mungkin dalam perjalanan menaklukkan tingginya puncak tantangan, kita perlu terjatuh berkali-kali dan mengulang dari titik awal keberangkatan.

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

Banyak yang berpikir bahwa apabila seseorang mampu mengatasi masalah, tantangan, ‘gunung-gunung’ itu dengan cepat, menandakan bahwa ia mampu melampaui segala hal. Tidak jarang pula, pikiran-pikiran semacam itu justru menjadi bumerang ketika kita gagal mencapai target yang kita pikir mampu kita capai. Pernahkah kita berpikir, bahwa apa yang ada di puncak, seberapa cepat kita mencapainya, bukan menjadi sumber kepuasan (atau ketidakpuasan) utama. Coba perlahan ketika kita melihat ke belakang, seberapa terjal gunung yang telah kita daki, seberapa sering kita terjatuh, dan lihat kembali bagaimana upaya kita untuk kembali bangkit dan mendaki. Puaskah Anda? Yeah, it’s not about how fast we get there or about what’s on the other side. It’s about the climb, the process, which make us today.

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

Di salah satu post saya sebelumnya, sempat saya sebutkan, “Nothing ables to stop or hit you down, unless you allowed them to do so”. Memang seharusnya begitu adanya, karena semua itu hanya sebatas pikiran. We fail, because we thought we have failed. Ketika kita memutuskan untuk tetap jatuh, kita akan tetap berada di sana. Ketika kita memutuskan untuk bangkit dan bergerak maju, maka kita akan bangkit dan maju.

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

Kuncinya ada di latihan terus menerus dan pantang mundur. Ada sebuah contoh yang diberikan seorang teman. Ketika kita berpikir ingin membentuk tubuh, kita akan mulai untuk berolah raga, angkat beban misalkan. Pada awalnya, kita mulai dengan beban 1 kg selama 10 hitungan berulang. Perlahan, ketika mulai terbiasa dengan 10 hitungan, kita pun menambahnya menjadi 20 hitungan berulang. Sulit tentunya bagi kita untuk langsung dengan mudah melakukan angkat beban selama 20 hitungan itu. Namun, kita terus berusaha pantang menyerah. Ketika sudah berhasil, rasa malas pun datang, latihan pun jarang dilakukan. Setelah sekian lama tidak berlatih, barang kali mengangkat beban 1  kg tersebut untuk 10 hitungan saja terasa berat.

Dari ilustrasi di atas, teman saya berusaha untuk menggambarkan bahwa semakin kita sering membiasakan diri untuk terus berusaha, maka kita akan semakin terlatih dan semakin siap untuk menghadapi beban yang lebih berat. Dengan terus mendaki gunung terjal, walaupun harus berkali-kali terjatuh, tapi setidaknya kita akan siap untuk mendaki gunung yang lebih tinggi dan terjal.

Secara keseluruhan, lagu ini turut ambil bagian dalam meningkatkan semangat saya lagi ketika sedang dalam masa-masa terpuruk karena berbagai masalah dan beban pikiran yang saya hadapi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Tulisan ini didedikasikan untuk:
Seseorang yang mengenalkan lagu ini pada saya (Thank you so much)
Seseorang yang memberikan contoh yang inspiratif tentang latihan (Thank you so much)
Teman-teman yang berjuang dengan berbagai beban (semangat ya!)
Teman-teman yang sedang menghadapi ujian akademis (goodluck!)
Teman-teman yang senasib dalam menyelesaikan skripsi (kita akan wisuda bersama di Balairung akhir semester ini!)
Teman-teman yang berjuang di dunia kerja (semangat ya!)
Semua makhluk

~holy_white_dragoon~

Menanti©

•March 6, 2010 • Leave a Comment

00.01. Angin malam datang berbisik, dalam sunyi yang mendesis. Malam tengah meringis. Dalam kantuk ditemani sahabat tak berwujud, sedang kunanti kabar yang belum tersiar. Aku termenung. Setiap detik kulalui tanpa sekedip pun aku tertidur. Menunggumu yang tak kunjung pulang.

Angin malam datang berbisik, dalam sunyi yang mendesis. Malam tengah meringis. Hanya sedetik bunyi dering kunanti, yang siap lepaskanku dari jerat ilusi. Sebuah pesan singkat atau pembicaraan kilat yang menyiarkan pulangnya seorang perawan. Dengan telinga menganga dan mata berkaca-kaca. Berita masih enggan menyapa.

Angin malam datang berbisik, dalam sunyi yang mendesis. Malam tengah meringis. Akhirnya, dering memanggil nyaring dengan berita datang menyapa. Aku tersentak. Campuran bahagia dan lega meluap tak terkira. Lelahku segera menjajah, memaksa setiap mili ototku terkulai lemah. Penantianku tak sia-sia.

March 6th, 2010, 00.39 (GMT +7)
– melancholic_self_loner –

Selamat Ulang Tahun©

•February 11, 2010 • 3 Comments

Telah genap setahun berlalu
Sejak doa terucap semu
Bukan tahun baru apalagi ritual zaman batu
Serupa dengan hari Rabu, Sabtu, ataupun Minggu
Seperti hari-hari dahulu, namun tetaplah baru

Hari di mana Aquarius bernyanyi
Atas tirta yang membasuh sunyi
Ya, hari jadimu turun ke Bumi

Kini, kami di sini
Bukan untuk menyoraki
Apalagi meneriaki
Usiamu yang bertambah lagi

Kami…
Hanya ingin mengukir memori
Yang semoga kau ingat sampai mati

Bukan dengan kue cokelat bertabur stroberi
Bukan pula dengan boks besar berpita putih
Hanya seulas senyum hangat
Dan doa tulus menyertai

Selamat Ulang Tahun
Khanti Paramita

February 1st, 2010, 22.26 (GMT +7)
– melancholic_self_loner –

================================================================================

Hari ini, tepat setahun berlalu sejak pertama kali diam-diam kuakui anggunmu dari jauh. Bukan hari yang istimewa. Hanya setara dengan hari lainnya. Senin. Selasa. Rabu. Kamis. Jumat. Sabtu. Minggu. Bukan tahun baru, bukan pula ritual-ritual jaman batu. Namun, tetap sebuah hari yang baru. Hari di mana Aquarius menyiramkan tirta dalam sunyi kemudian bernyanyi atas terbasuhnya bumi. Hari ulang tahunmu. 6 Februari 2010.

Hari di mana genap sudah usiamu, menyandingkan angka dua dengan angka satu. 21. Ya, dua puluh satu usiamu. Aku, dia, dan mereka datang berbondong menghampirimu. Bukan dengan cake cokelat bertabur stroberi favoritmu, bukan pula dengan boks besar berpita putih khas ulang tahun. Aku, dia, dan mereka, hanya datang dengan sepita cerita kami dan segenggam doa lewat bibir kami.

Hari di mana genap sudah usiamu, menyandingkan angka dua dengan angka satu. Aku, dia, dan mereka, tak bermaksud meneriakimu yang semakin bertambah usia. Aku, dia, dan mereka, berharap mampu ukirkan cerita indah dalam hati, kenangan manis sepanjang nadi. Dengan seulas senyum dan doa setulus hati, semoga engkau bahagia hari ini.

Hari di mana genap sudah usiamu, menyandingkan angka dua dengan angka satu. Hari yang baru. Hari saat aku mencoba, menghadirkan rasa yang tak terucap kata. Rasa syukur atas senyum yang kau punya, yang mampu jadikan hidupku semakin berwarna.

Selamat ulang tahun, Khanti Paramita :)


Oh baby you gotta know
Nothing in this world compares
The lovin’ you give is so true
I guess all the stars on my side
So many nights have I prayed you’d be mine
And when you kiss, you light my way
Showing me how
It’s so beautiful to believe in love, in you and me
마워 (gomawo) you’re the joy of my life, my reason to smile

I catch myself thinking why you are here, by my side
Not knowing what you see in me
I guess love can clear out the clouds
Carry you in the wind to my heart
Cause when you touch,
You take away all of my fears
And the happiness you give to me,
The same I’ll do for you
사랑해 (saranghae) sincerely from my heart, my reason to smile

~by
MC Mong feat. Lisa – Letter to You part 2

February 11th, 2010, 13.12 (GMT +7)
– melancholic_self_loner –

We Can Work It Out

•January 22, 2010 • 4 Comments

I can’t see why everybody has to fight
Cause two wrongs don’t make a right
A fall in life is justified
That is what they say
Life’s too short
There must be another way

We can work it out
Together we can change it
We can work it out
Together we can make it
And if we just forgive
In this world we live
And share some love
We can work it out

We should live to the fullest each and every day
Cause there’s no stop in time ooh~~
And yesterday’s past mistakes shouldn’t bring us down
Life’s too short
There’s no need to be afraid

We can work it out
Together we can change it
We can work it out
Together we can make it
And if we just forgive
Within this world we live
And share some love
We can work it out ooh~~

We can work it out
Yes, we can

We can work it out yeah~ yeah~
Together we can change it
(Together we can change it)
(Maybe we can make it ooh~ oh~)
And if we just forgive
Within this world we live~ If we
Life is too short

We can work it out
If we come together we can change it
We can~ work it
And together we can make it
And if we just believe in love
Within this world we live to love
Just miracle just very short
We can work it out

Ah~ oh~

We Can Work It Out by Sweetbox
Lyrics credit: www.ailrc.com/NDCWDOP.html

================================================================================

Lagu ini merupakan salah satu lagu yang menarik perhatian penulis ketika sedang memainkan game AyoDance Audition. Lagu ini berjudul We Can Work It Out, oleh Sweetbox. Musik yang menarik dan lirik yang baik. Tertarik untuk mendengarnya? Silahkan mencarinya lewat search engine favorit anda, atau anda bisa klik di sini untuk langsung di direct langsung menuju download link nya.

Menuliskan lirik lagu ini,  pada awalnya hanya terlintas sebersit di kepala penulis. Namun, entah mengapa dalam beberapa minggu terakhir lagu ini memberikan maknanya sendiri bagi penulis. Penulis menemukan beberapa kasus yang mungkin sangat tepat untuk diberikan obat mujarab lewat syair lagu ini.

Penulis rasa, bait pertama cukup menyentak ruang pikir kita semua.

I can’t see why everybody has to fight
Cause two wrongs don’t make a right
A fall in life is justified
That is what they say
Life’s too short
There must be another way

“Why everybody has to fight? Two wrongs don’t make a right”
Yah, yang namanya perselisihan, perbedaan pendapat, dan sebagainya, pasti selalu terjadi ketika kita berbicara tentang interaksi antar manusia. Satu individu saja sudah memiliki konsep pemikiran, prinsip, ideologi, dan gaya hidup yang berbeda – unik – apalagi melibatkan banyak individu. Namun, seringkali kita berusaha untuk mempertahankan ke-keras-kepala-an masing-masing.

Banyak dari kita yang ketika menemukan perbedaan-perbedaan pemicu perselisihan, berkomentar sebagai berikut:

“Lu mo terima ato ga? Kalo ga ya urusan lo. Gw ga peduli.” (Anda ingin dipedulikan? Mengapa mereka tidak?–red)
“Kok lu kayak gitu sih? Ga bisa ngertiin ya?” (Semua orang ingin dimengerti bukan?–red)

Semua orang selalu berusaha memenangkan dirinya sendiri. Ketika hal itu terjadi, pernahkah terpikirkan oleh anda bahwa itu akan menjadikan masalah semakin berlarut-larut, tidak dapat diselesaikan, atau bahkan tidak akan pernah selesai dan berujung pada hasil yang negatif. Perceraian, putus dari pacar, pertengkaran dalam keluarga, kehilangan sahabat terbaik kita, dan sebagainya. Pernahkah kita berusaha untuk, yah, work it out? Mengusahakan tercapainya kesepakatan bersama, pemecahan masalah bersama, win-win solution. Semua menang, karena memang semua ingin menang bukan? Semua merasa diperhatikan, semua dimengerti, semua didengar, dan semua senang. Damai dan indah bukan?

Sering pula kita menunggu solusi untuk datang pada kita. Sering kita mengharapkan orang lain, atau bahkan lingkungan berubah untuk kita. Namun, apabila ternyata orang lain juga menunggu kita berubah ke arah yang lebih baik, kapan kita semua berubah? Mari kita mulai dengan satu langkah kecil menuju perubahan diri kita masing-masing. Satu perubahan akan membawa perubahan-perubahan lain, akan mengajak orang lain untuk berubah ke arah yang lebih baik pula. Tidak ada kata sulit, hanya butuh usaha yang lebih keras. Sebuah ungkapan yang pernah dilontarkan seorang teman, “Bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau.”

Memang pada dasarnya praktik nyata akan jauh lebih sulit dibandingkan kita hanya berdiskusi di sini atau sekadar merenungkannya dalam hati. Namun tidaklah menyakitkan apabila kita mencoba untuk mengusahakan segala hal yang menuju ideal. Karena ideal itu sebatas wacana utopis, yang mampu kita kejar hanyalah jalan yang membawa kita mendekatkan diri pada utopia tersebut. Karena kita adalah manusia yang tak sempurna, yang hanya mampu mendekati sempurna.

Semoga tulisan ini mampu menginspirasi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

~holy_white_dragoon~

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.